Sekilas Kliring Transaksi Bursa

Di pasar modal Indonesia, KPEI berperan sebagai Central Counterparty (CCP), yakni sebagai perantara untuk melakukan novasi dalam penjaminan penyelesaian transaksi bursa. Novasi adalah pengalihan hukum antara Anggota Bursa (AB) jual dengan AB beli menjadi hubungan hukum antara AB jual dengan KPEI sebagai pembeli, dan AB beli dengan KPEI sebagai penjual. Sehingga, KPEI akan selalu berinteraksi dengan seluruh AB dalam menjamin penyelesaian transaksi bursa yang telah dilakukan oleh masing-masing AB.  
Gambar di bawah ini menjelaskan perbedaan tanpa novasi dan dengan novasi.

  Bilateral Kliring tanpa novasi                                                         Kliring dengan novasi

   Pembeli  --->  Penjual

    

Berikut penjelasan dari gambar di atas:
Gambar (a) di atas menjelaskan beberapa transaksi bursa yang dikliringkan oleh masing-masing AB secara bilateral (tanpa CCP).  Tidak ada proses novasi, karena tidak ada perubahan pasangan transaksi dengan pasangan penyelesaian.  AB jual akan menyerahkan saham dan akan menerima uang, demikian juga sebaliknya. 
Sedangkan pada gambar (b), terdapat perubahan, dimana tidak ada lagi hubungan hukum antara AB (di KPEI disebut Anggota Kliring - AK), berubah menjadi hubungan hukum antara AK dengan CCP.  AK hanya akan menyerahkan atau menerima  efek dan atau uang dari dan ke CCP atau KPEI.  Dengan keberadaan KPEI dalam proses kliring transaksi bursa, dapat meng-efisienkan proses penyelesaian transaksi bursa.
Sebagaimana dijelaskan di atas, pihak yang berhak mendapatkan layanan jasa kliring dan penjaminan KPEI disebut AK atau pihak lain (disebut Bank Kustodian) sesuai dengan Peraturan OJK No. 26/POJK.04/2014 tentang Penjaminan Penyelesaian Transaksi Bursa. Penjelasan detail terkait Anggota Kliring dan Bank Kustodian, dapat klik disini
Kliring adalah proses perhitungan hak dan kewajiban yang timbul dari transaksi yang telah dilakukan AB di Bursa Efek Indonesia, dan akan diselesaikan pada tanggal penyelesaian.  Dalam menjalankan proses kliring, KPEI melaksanakan dengan 2 cara yaitu:

  • Netting adalah pemenuhan hak dan kewajiban AK dengan menyerahkan atau menerima sejumlah efek tertentu yang ditransaksikan dan untuk menerima atau membayar sejumlah uang untuk seluruh efek yang ditransaksikan.
  • Per Transaksi (trade for trade – TFT) adalah pemenuhan hak dan kewajiban AK untuk setiap transaksi oleh AK jual dan AK beli yang dilakukan secara langsung atas efek yang ditransaksikan.

Pemilihan metode kliring di atas tergantung dari jenis pasar dimana transaksi bursa dilakukan. Jenis pasar terbagi menjadi 3, yakni Pasar Reguler, Pasar Tunai dan Pasar Negosiasi. Pasar Reguler merupakan pasar dimana transaksi bursa dilaksanakan berdasarkan proses tawar menawar secara lelang berkesinambungan (continuous auction) oleh AB dan penyelesaiannya dilakukan pada hari bursa ke-2 setelah terjadinya transaksi tersebut (T+2). Pasar Tunai juga dilakukan continuous auction, namun untuk waktu penyelesaiannya dilakukan pada hari bursa yang sama dengan terjadinya transaksi bursa (T+0). Sedangkan Pasar Negosiasi merupakan pasar dimana transaksi bursa dilaksanakan berdasarkan tawar menawar langsung secara individual dan tidak secara lelang berkesinambungan serta penyelesaiannya dilakukan berdasarkan kesepakatan antar pihak yang bertransaksi.
Proses kliring transaksi bursa akan menghasilkan Daftar Hasil Kliring (DHK), yang akan dikirimkan ke AK sebagai tagihan atas transaksi yang sudah dilakukan dan wajib diselesaikan sesuai waktu penyelesaian.

Berikut bagan mekanisme kliring dan penyelesaian dari transaksi bursa :